Sabtu, 14 September 2019

Resensi : Raksasa dari Jogja


Judul                : Raksasa Dari Jogja
Penulis             : Dwitasari
Penerbit           : Plot Point Publishing
Tahun terbit     : 2012
Tebal Buku      : 271 halaman
Cetakan           : Ketiga
Kategori          : Novel remaja (fiksi)
ISBN               : 978-602-9481-23-5

Novel ini menceritakan tentang kehidupan seseorang yang bernama Bianca Dominique. Ia tak percaya dengan apa itu cinta, karena baginya cinta hanya mengingatkannya pada keluarganya yang tak harmonis. Bianca menderita melihat Papanya yang tak segan-segan melakukan kekerasan pada  Mamanya. Apalagi perlakuan kasar Papanya berbanding terbalik dengan sikap Mamanya yang pasrah dan lemah. Bagi Bianca, kedua orang tuanya tidak saling mencintai tetapi hanya saling membenci. Meskipun ia tak mempercayai cinta, sebenarnya ia sedang berusaha mencari jawabannya.
Bahkan, Letisha sahabat dekatnya-tempat Bianca mencurahkan segala hal, tega merebut Joshua-cinta pertama Bianca. Hal ini yang membuat Bianca semakin tak mempercayai cinta dan akhir memilih untuk kuliah di Yogyakarta. Meninggalkan Letisha dan Joshua, dan meninggakan orang tuanya. Ada rasa sedih yang mendalam di hati Bianca ketika harus meninggalkan Mamanya, ia khawatir Mamanya akan dipukul oleh Papanya lagi. Namun, akhirnya ia berangkat ke Yogyakarta setelah Mamanya meyakinkan Bianca bahwa ia akan baik-baik saja selama Bianca kuliah di Yogyakarta.
Ketika Bianca sampai di Yogyakarta Bianca tinggal bersama sepupunya bernama Kevin dan Bude Sumiyati. Beliau sangat menyayangi Bianca seperti anaknya sendiri, ia sangat senang jika Bianca akan tinggal di Jogjakarta bersama dengannya dan Kevin. Bude Sumiyati mempercayakan Bianca pada anaknya-Kevin untuk selalu menjaga Bianca.
Suatu hari Bianca bertemu dengan sosok yang berpostur tinggi besar yang menubruk Bianca saat berada di shelter Taman Siswa. Sebenarnya, dorongan pria itu melindungi Bianca dari penumpang yang turun secara brutal dengan jumlah yang cukup banyak. Berbagai peristiwa yang terjadi karena ketidaksengajaan dan membuatnya harus bertemu dengan sosok pria bertinggi badan setinggi rak buku di kamarnya. Mulai dari saat Bianca bertemu dengannya di Pasar Beringharjo, dan ketika Bianca mengetahui namanya  saat ada acara kampus di Merapi. Namanya adalah Gabriel-senior di universitasnya.
Hari terus berlalu semakin lama ia semakin dekat dengan Gabriel, ia percaya bahwa Gabriel akan mengubah hidupnya menjadi lebih berwarna. Awalnya Kevin sepupu Bianca tidak setuju Bianca dengan Gabriel namun dengan seiring waktu Kevin percaya bahwa Gabriel memang orang yang tepat bagi Bianca yang mampu membuatnya tersenyum kembali dari semua masalah yang dihadapinya.  Pertemuan yang selalu terjadi secara tidak sengaja, secara perlahan dan harus melewati banyak konflik itu akhirnya membuat Bianca menemukan cintanya. Bianca menemukan Gabriel, begitu pun Gabriel menemukan Bianca.
Pada akhirnya Mama dan Papa Bianca bercerai. Semua masalah dan beban yang ditanggung oleh mama Bianca membuatnya lelah dan mengharuskannya berpisah. Letisha pun meminta maaf pada Bianca karena telah merebut Joshua dan Bianca pun telah memaafkannya. Bianca pun hidup bahagia bersama Mama, Kevin, Gabriel, dan Bude Sumiyati di kota Yogyakarta.

Kelebihan :
Novel ini dikemas dengan bahasa yang ringan, tidak terlalu baku dan membosankan serta mudah dipahami oleh seluruh kalangan pembaca. Pengarang juga menggambarkan latar dengan bagus.  Latar Jogja yang dipilih, juga digambarkan cukup detail. Pembaca akan disuguhi beberapa tempat wisata di Jogja yang digambarkan dengan narasi yang tidak membosankan.
Kekurangan :
Dengan gaya remaja yang khas, plot dari novel ini sangat mudah ditebak dari awal membacanya. Ada beberapa kosakata bahasa Jawa yang sulit dipahami pembaca umum karena tidak disertai maknanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar